Microservices Cuma Bikin Pusing? Mungkin Anda Melewatkan 6 Pattern Vital Ini

Subscribe dengan Account Google untuk mendapatkan News Letter terbaru dari Halovina !
Microservices Cuma Bikin Pusing? Mungkin Anda Melewatkan 6 Pattern Vital Ini

Pernahkah Anda berada di situasi ini?


Tim Anda baru saja memutuskan untuk migrasi dari Monolith ke Microservices. Euforia-nya luar biasa.


Anda membayangkan kode yang lebih bersih, deployment yang independen, dan teknologi yang bebas dipilih untuk setiap servis.


Namun, tiga bulan kemudian, realita menghantam.


Tiba-tiba, debugging menjadi mimpi buruk. Sebuah request user hilang entah di mana di antara Service A dan Service B. Data saldo berkurang, tapi pesanan gagal dibuat. Notifikasi error muncul bukan karena kode yang salah, tapi karena jaringan yang timeout sesaat.


Keresahan terbesar developer masa kini adalah menganggap Microservices hanya soal "memecah codingan besar menjadi kecil".


Padahal, tantangan sebenarnya bukan pada ukuran kodenya, melainkan pada komunikasi antar sistem terdistribusi. Saat kita memecah monolith, kita menukar kompleksitas kode dengan kompleksitas jaringan.


Tanpa memahami pola arsitektur yang tepat, Microservices Anda hanyalah "Distributed Monolith"—sebuah sistem yang terpecah-pecah, lambat, dan rapuh.


Mari kita bedah 6 pola arsitektur vital yang membedakan sistem amatir dengan sistem enterprise-grade, beserta contoh kasus nyatanya.

1. Idempotency: Penyelamat Saat Jaringan "Hiccup"


Masalah klasik sistem terdistribusi adalah ketidakpastian jaringan. Bagaimana jika klien mengirim request, server memprosesnya, tapi respon sukses gagal sampai ke klien karena koneksi putus? Klien pasti akan melakukan retry. Tanpa perlindungan, data akan terduplikasi.


Use Case: Top-up Saldo E-Wallet Bayangkan user melakukan top-up Rp100.000. Karena sinyal buruk, aplikasi user mengirim request POST yang sama 3 kali.



  • Tanpa Idempotency: Saldo user bertambah Rp300.000 (Bencana finansial!).




  • Solusi: Terapkan Idempotency Key. Setiap request membawa ID unik (misal: UUID). Saat server menerima request kedua dengan ID yang sama, server tahu transaksi itu sudah diproses. Server hanya akan mengembalikan status "Sukses" tanpa menambah saldo lagi. Aman.




2. Two-Phase Commit (2PC): Si Konservatif yang Ketat


Dalam dunia ideal, kita ingin semua database di berbagai service sinkron secara instan. 2PC adalah protokol "semua atau tidak sama sekali". Ia memastikan konsistensi data yang sangat kuat (Strong Consistency), meskipun harganya adalah performa yang lambat karena proses locking.


Use Case: Transfer Dana Antar Bank Core Anda mentransfer uang dari Bank A ke Bank B.



  • Skenario: Saldo Bank A harus berkurang DAN Saldo Bank B harus bertambah di detik yang sama.




  • Mekanisme: Sebuah koordinator transaksi akan bertanya pada Service A dan Service B: "Siap commit?". Jika keduanya menjawab "Ya", transaksi dijalankan. Jika salah satu "Tidak" atau mati, semua dibatalkan (Rollback). Tidak boleh ada uang yang melayang di udara.




3. Saga Pattern: Solusi Modern untuk Transaksi Panjang


Karena 2PC seringkali terlalu berat dan memblokir database, dunia microservices modern beralih ke Saga. Saga memecah transaksi bisnis menjadi rangkaian transaksi lokal yang berurutan. Jika ada kegagalan di tengah jalan, Saga menjalankan Compensating Transaction (aksi pembalikan).


Use Case: Pemesanan E-Commerce (Order -> Inventory -> Payment)



  1. Service Order: Membuat pesanan (Sukses).




  2. Service Inventory: Mengurangi stok barang (Sukses).




  3. Service Payment: Mendebet kartu kredit (Gagal/Saldo kurang).




  4. Kompensasi: Karena langkah 3 gagal, Saga secara otomatis memerintahkan Service Inventory untuk "Mengembalikan stok" dan Service Order untuk "Membatalkan pesanan". Konsistensi tercapai secara eventual (pada akhirnya konsisten).





4. Service Versioning: Menghindari "Breaking Changes"


Service Anda hidup dan berkembang. Namun, klien yang menggunakan API Anda (aplikasi mobile yang jarang di-update user, atau service milik partner) tidak selalu bisa berubah secepat Anda. Mengubah struktur respon JSON tanpa strategi adalah cara tercepat mematikan aplikasi klien.


Use Case: Perubahan Struktur Data User Service User v1 mengembalikan data alamat dalam satu string: {"address": "Jl. Sudirman No 1, Jakarta"}. Kebutuhan bisnis berubah, Anda perlu memisahkan data alamat agar lebih detail. Alih-alih menghapus yang lama, Anda membuat Versi 2 (v2): {"street": "Jl. Sudirman", "city": "Jakarta"}. Aplikasi lama tetap mengakses endpoint /v1/user dengan aman, sementara fitur baru mengakses /v2/user.

5. Circuit Breaker: Sekering Pengaman Sistem


Dalam arsitektur microservices, ketergantungan adalah hal yang wajar. Namun, jangan biarkan satu service yang mati menyeret seluruh sistem down (Cascading Failure).


Use Case: Fitur Rekomendasi di Halaman Utama Halaman utama aplikasi Anda memanggil "Service Produk" dan "Service Rekomendasi (AI)". Tiba-tiba, Service Rekomendasi overload dan lambat merespon.



  • Tanpa Circuit Breaker: Halaman utama akan loading terus menerus menunggu respon rekomendasi. User kabur karena aplikasi terasa hang.




  • Dengan Circuit Breaker: Setelah mendeteksi kegagalan beruntun di Service Rekomendasi, sirkuit "putus" (Open). Sistem langsung berhenti memanggil service tersebut dan memberikan fallback (misalnya menampilkan produk terpopuler saja). Halaman utama tetap cepat dan bisa diakses, meskipun tanpa fitur rekomendasi personal.




6. API Gateway: Satpam dan Resepsionis Pintar


Mengekspos puluhan microservices langsung ke publik adalah ide buruk. Siapa yang menangani autentikasi? Bagaimana jika IP service berubah? Di sinilah API Gateway berperan sebagai satu-satunya pintu masuk.


Use Case: Aplikasi Super App Aplikasi Gojek/Grab tidak memanggil service gofood-service.internal atau goride-service.internal secara langsung. Aplikasi hanya memanggil satu domain: api.gojek.com. Gateway inilah yang bertugas:



  1. Memastikan token user valid (Autentikasi).




  2. Mengarahkan request /food ke Service Food dan /ride ke Service Ride (Routing).




  3. Membatasi jika user melakukan spam request (Rate Limiting). Ini menyederhanakan sisi klien dan mengamankan sisi backend.




Beralih ke Microservices bukan hanya soal memecah kode, tapi soal mengubah pola pikir. Sebagai backend engineer, tanggung jawab kita bergeser dari sekadar menulis fungsi yang benar, menjadi merancang sistem yang tahan banting (resilient).


Pola-pola di atas—Idempotency, Saga, Circuit Breaker—adalah "baju besi" yang akan melindungi aplikasi Anda dari kerasnya lingkungan production. Jadi, sebelum Anda menulis baris kode microservice berikutnya, tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang terjadi jika service ini mati?"